Sedikit Sentilan dari Bule

By Saturday, March 17, 2007 30 Permalink

Tadi siang dapat forward email dari Din2. Isinya tentang artikel di The Jakarta Post yang mengangkat opini seorang bule londo tentang attitude orang kita (baca : org indo). Berikut isi artikel tersebut : ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Concerned only with money

Since 1991 I have visited many places in Indonesia , from Medan to Makassar.

As I learned Bahasa Indonesia I can easily mingle with ordinary Indonesians. My first opinion about Indonesia was very positive. Most people greeted me and invited me to their homes. In particular people in the countryside are very happy when a westerner visits their village.

After staying a long time in this country and having talked with many people at all social levels, from farmers to government officials, it seems that most have only one topic which keeps them entertained: money.

In my country, the Netherlands , people have many hobbies and ambitions. Dutch children as young as four years old want to become doctors, police officers, dentists, lawyers, musicians, dancers, etc. They are encouraged by their parents to swim, dance, sing, draw cartoons, love animals, respect nature and so on. Indonesian children simply hang around all day in the vicinity of their house without having anything to do.

They aren’t encouraged by their parents to do something useful as these parents only watch television,chat with neighbors or, even worse, sleep.

As a European I become bored of being told every day that I am rich just because I’m from Europe . Indonesians don’t care about their achievements, but only about the amount of money they acquire. The way they get this money doesn’t matter to them.

People at all levels protest daily about corruption, but most of them are themselves corrupt.

If those protesters could acquire top positions they wouldn’t mind being corrupt in the same way they now accuse others. A lot of the media, especially The Jakarta Post, run stories on widespread corruption. Unfortunately, it’s only talk with almost no action at all. In my opinion, the high level of corruption in Indonesia is caused by the fact that Indonesians have no ambition, except to acquire money. When they have more than they need, they simply have a party, buy a car, television, or waste it on other meaningless items.

They don’t save it for their children’s education and future like we do in Europe.

What’s the meaning of money if you don’t know what to do with it? How is this country going to develop if nobody cares about their achievements but only about money?

RONALD RAMAKERS
Medan , North Sumatra
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hmm.. aku baca ini kudu ngguyu (ketawa) :)) & ngenes sekaligus :( Gw setuju dgn bagian dimana mister Ramakers menyatakan bahwa banyak diantara orang kita yg suka kritik orang lain tukang korup, padahal diri mereka sendiri -secara sadar ataupun tidak- juga korup. Maling teriak maling, tanya kenapa ? *iklan*

Enjoy this article? Get email updates for the hottest topic, FREE!

* indicates required

I won't spam. Promise! :)
30 Comments
  • donna
    March 18, 2007

    salam kenal.. mau ikut berkomentar. menurutku bule yang satu ini pendapatnya terlalu “biased”, karena mungkin di indonesia dia hanya ketemunya ama orang-orang seperti itu.

    aku malah bacanya sedikit tersinggung, terutama membaca, “They don’t save it for their children’s education and future like we do in Europe.”

    oalah emangnya semua orang londo begitu? emangnya semua orang indonesia gak mentingin pendidikan? kasian banget orang-orang indonesia, ya. digeneralisir tiap hari kerjanya nonton tv, tidur-tiduran, tukang korup, gak peduli ama anak-anak…

    holier-than-thou banget sih ni orang. terlalu main generalisirnya itu yang aku nggak suka.

  • awp2005
    March 18, 2007

    Ah ini bule kuper n pendapatnya BS banget.
    Agak2 tersinggung nih bacanya, abis dibilang seluruh Indonesia tuh mata duitan, tukang korupsi, nggak peduli pendidikan anak2….. ck ck ck.
    Seandainya bule kuper ini tau, berapa juta orang tua di Indonesia yang kerja siang malam supaya anak2nya bisa sekolah sampe sarjana.

  • JiE
    March 18, 2007

    @Donna :

    menurutku bule yang satu ini pendapatnya terlalu “biased”, karena mungkin di indonesia dia hanya ketemunya ama orang-orang seperti itu.

    Salam kenal juga. Artikel ini ditampilkan pada kolom Opinion. Jadi sifatnya bisa saja subjective. Sangat mungkin Londo lain punya pendapat dan sudut pandang yg berbeda terhadap orang Indo.

    Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan mapan dan convenient mereka di Europe telah membentuk standard tinggi terhadap kehidupan.

  • Shirley
    March 18, 2007

    bisa aja tuch bule!
    gw jg bisa ngomong yg sama dong ttg para bule!
    siapa bilang bule2 itu seneng nyimpen duit buat future anak2nya?????
    maap aja om Bule! gw liat justru bule paling seneeeeng yg namanya “have fun”
    bar, cafe, holiday, “one night stand”, etc……… itu semua kan “BULE BANGET”
    teenagernya aja pake uang tunjangan dari pemerintahnya buat “breast implants”…… :)) *investasi katanya*

  • JiE
    March 18, 2007

    @awp :

    Seandainya bule kuper ini tau, berapa juta orang tua di Indonesia yang kerja siang malam supaya anak2nya bisa sekolah sampe sarjana.

    Sabar2… jgn esmosi :D Kalo menurut saya pribadi nih, banyak orang Indo yg bekerja keras namun belum bekerja cerdas.

    Kalo pendapat bule2 di amerika ttg indo bagaimana mbak ?

  • JiE
    March 18, 2007

    @shirley :

    maap aja om Bule! gw liat justru bule paling seneeeeng yg namanya “have fun”
    bar, cafe, holiday, “one night stand”, etc……… itu semua kan “BULE BANGET”

    Silahkan kirim ke Jakarta Post Shir.. hehehe.. :P Kalo soal breast implants, no comment deh.. *soalnya juga seneng :))

  • Abraham
    March 18, 2007

    Wah mau nanggapi nieh buat Donna dan awp2005…
    Kurasa apa yang diungkapkan “bule” kita satu ini ada benarnya…
    Walau tidak seratus persen benar dalam arti semua orang Indonesia seperti itu namun sebagian besar memang begitu dan itulah kenapa Indonesia sangat sulit untuk maju.
    Don kalau seseorang menggenralisasi sesuatu itu pasti karena ada sebabnya, ada asap pasti ada api, kalau menurutku itu karena memang mental orang Indo yang ingin serba instant (sekali lagi tidak semua).. disambung dengan komentar awp2005 “…sampe sarjana.” Inilah Indonesia, semua orang Indonesia berpikir bahwa sarjana sudah cukup, karena sudah bisa bekerja, perusahaan sudah mau terima anak sarjana.. Tapi apa sampai disitu.. Sarjana..(apapun itu) hanya dididik oleh universitas untuk mempelajari ilmu yang sudah ada untuk diterapkan di dunia kerja.. Berapa orang Indonesia yang mau berpikir untuk terus berkembang, bukan nya stuck di satu tempat saja.. Saya bukan bilang tidak ada, ada, namun sedikit (jika dibandingkan dengan jutaan manusia yang berwarga negara Indonesia).
    Saya sendiri melihat perbedaan besar antara Taiwan (kebetulan lagi di taiwan belajar) dan Indonesia kita.. di kampus saya saja perbandingan antara anak yg sekolah sarjana dan master dan PhD tidak jauh beda.. dimana master dan phd kita dituntut untuk mencipta suatu yang baru (modfikasi) kita dituntut kreatif.
    Masa kita mau selamanya jadi pengguna saja.. berapa besar devisa kita hilang karena minyak kita dikelola oleh asing dsbnya…
    Alangkah baiknya daripada kita tersinggung, kita berbuat sesuatu untuk bangsa kita tercinta ini. Semoga ini bisa menjadi lecutan agar Indonesia bisa maju ^^

  • JiE
    March 18, 2007

    @Abraham :

    Alangkah baiknya daripada kita tersinggung, kita berbuat sesuatu untuk bangsa kita tercinta ini. Semoga ini bisa menjadi lecutan agar Indonesia bisa maju ^^

    Nice opinion Bram :) Tapi sebenarnya pendidikan hanya salah satu faktor yg menopang sebuah bangsa. Sisi lain yg tak kalah pentingnya adalah moral. Makin tinggi tingkat pendidikan, bisa jadi makin canggih cara2 yg digunakan untuk melakukan ‘penyelewengan’.

    *kok jadi pelajaran PMP ya disini :D

  • Yohan W
    March 18, 2007

    Wah..
    panas nih topiknya.

    IMO, some of us were like that. Dan sedihnya, nampaknya sebagian dari kita yang di cap negatif itu cukup dianggap sebagai mayoritas.

    Akan tetapi, bukankah demikian itu pemikiran manusia? Apa yang baik tidak akan di expose, dianggap biasa saja dan sudah sewajarnya (memang sih). Akan tetapi apabila ada hal yang *agak* kurang lazim, akan di beritakan besar-besaran. Dan bagi kita yang sudah mempunyai pemikiran negatif akan sesuatu akan selalu berpikir negatif, sulit untuk kembali netral.

    Jadi kalau ada kritikan semacam ini, jangan keburu emosi. Mungkin yang mengkritik belum melihat semuanya secara lengkap, tapi mungkin juga memang itulah kenyataan yang terjadi, kita saja yang merasa offended yang belum melihat secara lengkap.

    Peace out,
    Yohan

  • tanz
    March 19, 2007

    Wah artikel gini yang gw suka buat komentarin.
    Ndak semua orang indo seperti itu, contooooohnya aaaakuuuu (walah kok malah kayak lagu dangdut) :b.

    Orang indo yang digambarkan ama tuh bule kebanyakan orang2x yang ditampilin di TV2x (public figur, para demonstran, politikus, dkk), merekalah yang tampak menonjol dan mewakili 200jt jiwa lebih orang Indo yang lain. Padahal banyak sekali orang Indo yang lain yang ndak seperti itu, tapi ndak tampil menonjol kayak orang2x diatas.
    Kalo soal komentar Shirley, aku setuju banget, kultur mereka juga tidak 100% bagus untuk ditiru, banyak kebiasaan mereka yang buang2x duit untuk kegiatan ndak berguna. Ya semoga kedepan Indonesia Raya ini bisa lebih maju berkat karya anak2x muda-nya, amin.

  • sherly
    March 19, 2007

    masalah korupsi – hm… ya apa boleh buat.. emang di indo dituntut harus kaya untuk hidup enak.. sedangkan kaya diperlukan banyak waktu kan.. kalo ga mau buang-buang waktu.. ya jalan pintas nya si korupsi.. atau kerja kaya mafia ( bagian yang nyogok2)… kalo aku bilang korupsi di indo pasti top five di dunia.. dari yang berpendidikan atau tidak… semua pasti sudah pernah korupsi… dari nyogok polisi dari waktu tilang.. pakai calo untuk urus-urus segala macam passport, surat-surat tanah, hak milik, siup, dan lain2…

    Masalah pendidikan.. ya gara-gara melarat… makan aja belum tentu cukup… boro2 mau simpan uang pendidikan buat anak? Mungkin sekitar 80% penduduk indonesia terdiri dari orang yang kurang mampu atau pas-pas an…

    Masalah ambisi dan hobby… berhubung kebanyakan orang indo sudah susah… ya gmana isa mikirin ambisi atau hobby? Apalagi orang yang tidak mampu.. boro2 hobby… makan aja susah….

    Untuk para ibu-ibu yang suka ngegosip, liat tv.. mungkin tuh bule liatnya kalangan menengah ke bawah ya??? liat di daerah desa-desa… kampung-kampung.. hm.. aku kan punya sekitar 10 pegawai.. itu kebanyakan ibunya.. tidak kerja.. so.. kalau orang tidak kerja apa yang dilakuin? ya pasti gosip + liat sinetron (hiburan paling murah). Lha mau jalan-jalan ke mall.. uang ga ada.. bahkan banyak orang kalangan kebawah yang ga pernah liat airport!!!

    Kalau aku bilang… ini semua ya gara-gara pemerintahan kita yang korupsi besar-besaran.. jadinya semua ga benar.. uang jadi ga merata… gaji kecil kebutuhan besar… quality of live ga ada…. berapa persen orang indo yang hidupnya cuma diisi dengan mencari uang???

    Ya memang… Tidak semua orang indonesia seperti itu. Kalo menurut aku.. pandangan orang bule ini adalah sesuatu yang dilihat dia dari kalangan menengah kebawah dan kalangan korupsi. DIa tidak melihat kalangan lain, karena kalangan tersebut persentasenya cukup kecil.

    Anyway… kadang aku berpikir… sometime it’s a blessed that you’re born as caucasian.Kenapa?
    1. Inggris sudah yahud… ke negara-negara lain gampang.
    2. Ngurus visa ke luar negeri gampang
    3. Tidak dibilang-bilang teroris
    4. Value uang nya besar
    5. Cari kerjaan gampang, masi ga ada pendidikan minimal isa jadi guru inggris di indo =D
    6. Quality of Life nya tinggi

    Ya tapi itu juga ada bad nya.. seperti night life mereka….

  • ancilla
    March 20, 2007

    well, ya bisa jadi si… karena kesulitan hidup sementara duit jadi berkuasa, sangat wajar kalau jadi tertarik dengan uang :)

    mungkin karena itu pula banyak masyarakat yang jadi “minder” kalau ngadepin ekspatriat. yang jadi puja-puji berlebihan… sementara orang Jepang, dapat “memaksa” ekspatriat-nya untuk belajar bahasa mereka, walaupun orang Jepang memahami Bahasa Inggris. hehehe…

    tapi trus, kok tidak ditanya balik ke oom bule ini? ngapain dia ke Indonesia ya, kalau di negaranya sana lebih mampu meraih achievements? mungkin karena ingin merasakan dunia timur dengan sengatan mataharinya… jadi penasaran… apa mungkin dia juga ingin merasakan makna uang disini? hehehe…

  • Vilia
    March 23, 2007

    Numpang ngasih pendapat ya Jie.
    Yah intinya masalah ekonomi dan moral memang menjadi masalah besar di Indonesia. Dan itu memang PR kita semua yg merasa berpendidikan, berkecukupan, dan berbudaya untuk bisa mengubahnya menjadi jauh lebih baik lagi.

    Masalah generalisasinya, yah semua orang bisa berpendapat, termasuk si bule itu. Tapi semua orang juga berhak mematahkan pendapatnya dengan pembuktian, itu tugas bangsa ini. Setiap kebudayaan pasti ada baik dan buruknya, dan sudah jadi sesuatu yg normal apabila seseorang hanya bisa memandang hal2 buruk dari segala sesuatu yang berbeda dengannya. Terlebih lagi sejarah ditulis oleh pemenang. Jadi wajar saja bagi si bule ini untuk merasa kebudayaannya jauh lebih baik. Dan itu sebetulnya tidak penting sih. Bagaimanapun kita memiliki keburukan dan yg terpenting adalah memperbaiki keburukan itu.

    Tapi andai boleh bertanya, saya justru ingin menanyakan, dia sebagai bangsa Belanda, yang telah menikmati hidup dan menikmati pembangunan negaranya yang berasal dari hasil keringat bangsa Indonesia selama masa penjajahan Belanda sekian ratus tahun lamanya, apa sumbangsihnya terhadap bangsa ini? Apa hasil didikan bangsa Belanda dan dampaknya bagi bangsa ini selama sekian ratus tahun penjajahannya? Kenapa keadaan bangsa ini begitu berbeda jauh dengan keadaan bangsa – bangsa jajahan Inggris (bahkan sebelum terjadinya krismon)?

    Dan yg terakhir, sama dengan pertanyaan Ancilla, apa yang dia lakukan di sini selain membandingkan? Dan apa hasil yang sudah dijadikan solusi bagi perbandingan yg sudah dia dapatkan? Karena kasarannya..kalau sekedar membandingkan, ibu2 yg kerjanya tidur – tiduran dan bergosip, ataupun anak tk yang tidak ngapa2in itu pun bisa. :) Hehehe….

  • Rusdy
    March 27, 2007

    “”

  • Rusdy
    March 27, 2007

    Weleh, kaya neng Vilia bilang nih:

    “Setiap kebudayaan pasti ada baik dan buruknya, dan sudah jadi sesuatu yg normal apabila seseorang hanya bisa memandang hal2 buruk dari segala sesuatu yang berbeda dengannya”

    Kalau mau dikorek-korek, intinya si ‘Bule’ ini merasa kebudayaan dia-lah yang paling pantas dianut di seluruh dunia. Contohnya:

    “In my country, the Netherlands , people have many hobbies and ambitions. Dutch children as young as four years old want to become doctors, police officers, dentists, lawyers, musicians, dancers, etc.

    Indonesians don’t care about their achievements, but only about the amount of money they acquire”

    Kebudayaan lain, seperti cecunguk-cecunguk di Indonesia, maunya duiiiit saja! Cetek sekali pemikirannya (‘paraphrased’ by me :) )

    Bisa aye tambahkan:

    Orang Cina mikirnya meneruskan nama marganya saja, kerja keras seumur hidup banting tulang dan kentut, yang penting anak! (Pendapat subjektif saya tentunya, para pembaca bisa tidak setuju)

    Lho, siapa yang bilang kubudayaan ‘ini’ lebih baik dari kebuadayaan ‘anu’, itu kan PENDAPAT saja! Sebaliknya, orang Indonesia bisa bilang ke si ‘om Bule’, orang eropa bisanya mikirin ‘ambisi’ saja, sehingga hubungan dengan sesama keluarga ditelantarkan, termasuk sesama keluarga!

    Kesimpulan, seperti bang Abraham bilang:
    “Alangkah baiknya daripada kita tersinggung, kita berbuat sesuatu untuk bangsa kita tercinta ini. Semoga ini bisa menjadi lecutan agar Indonesia bisa maju”

    Daripada sakit hati, justru bisa dianggap nasihat dari orang lain untuk membangun diri sendiri. Contohnya, kita bisa mengambil contoh dari kebudayaan lain yang daripada mikirin duiiiiit saja, tapi juga berpikir bagaimana membangun infrastruktur untuk sesama. Mulailah dari yang kecil, dari disiplin diri sendiri: tidak membuang sampah sembarangan, patuh peraturan (termasuk lalu lintas!!), tidak menyogok aparat negara, dan banyak lainnya deh!!

    -My two cents-

  • iswandi
    March 30, 2007

    Dear all…

    Hendak nya, menjadi lebih bijaksana.
    memang benar benar atas apa penulis nyatakan dalam tulisan nya.
    ini seperti melihat kotak kubus dimana enam sisi nya memiliki warna yang berbeda.
    jika kamu hanya melihat 1 titik pandang, kamu hanya dapat melihat sebagian warna. maksimum kamu hanya bisa melihat 3 warna dalam 1 titik pandang. pada hal sebenarnya ada 6 warna pada 6 sisi kotak kubus tersebut.
    in my opinion:
    “there is a box with has 1 color at each side differently. totally it has 6 colors. you just could see 3 colors at 1 poit of view maximum. even though there are 6 colors, you could not see all colors”.
    Please be more wisdom, you were right Mr RONALD RAMAKERS.
    better if you considered many things. You just seen some colors of indonesians. You could not see many. back to the box you just seen 3 colors maximum if possible. could be you just seen 1 side of course you seen only 1 color. but you have lost 3-5 more colors. you should care about it”

    Iswandi

  • lenje
    April 7, 2007

    Ide cemerlang untuk memposting tulisan wong Londo itu, dan lebih asik lagi ngebaca reaksinya orang2! :):):). IMHO, yang tampak dari berbagai respon di sini adalah: kita cepet banget panas menerima kritik. Barangkali kita mikirnya gini: boleh2 aja kita sendiri mengkritik negara kita, but who the hell are you to tell us what to do? Who gives you the right to tell us what we are?

    Lepas dari berapa persen nilai kebenaran yang dikandung opini Ronald Ramakers ini, barangkali yang perlu lebih kita kembangkan adalah budaya mawas diri. Kalau orang lain bilang begini begitu tentang kita, bener gak sih? Kenapa mereka bisa sampai kesimpulan itu? Kalo gak bener, argumen apa yang bisa kita sampaikan? Tentunya yang logis ya, gak sekedar bilang: alahhh.. kayak bule gak gitu aja! Mereka kan begini begini begini… Hehehehe.. malah keliatannya kayak anak kecil.

    Buat saya pribadi sih apa yang diuraikan Ramakers ini banyak benernya. Ramakers mungkin gak peduli faktor-faktor penyebab munculnya gejala2 yang dia lihat apa, dia cuma tulis pengalamannya dari sudut pandangnya. Daripada kita rame2 mengutuki dia, lebih baik kita berusaha memperbaiki kekurangan2 kita sendiri *setuju sama Rusdy*

  • cien2
    April 13, 2007

    i think not all indonesian peoples like that. Ya maybe if he saw some people on the road, or bad environment.
    By the way, there are not few indonesian people success out of Indonesia, isn’t it :D

  • Andre
    April 13, 2007

    For more comments on this article, from other westeners living in Indonesia check out: http://forum.indahnesia.com/topic/4918/0/is_this_an_opinion_about_people_in_my_country.php

  • JiE
    April 13, 2007

    Hmm.. artikel ini ternyata cukup populer dan menjadi salah satu pendongkrak traffic blog saya (peace)

    To All : none of your opinions -including Mr. Ramaker’s- is wrong, I’m agree with Iswandi’s nice comment about box analogy.

    “there is a box with has 1 color at each side differently. totally it has 6 colors. you just could see 3 colors at 1 poit of view maximum. even though there are 6 colors, you could not see all colors”.

    @Andre : thx linknya, menarik ! Dari sana kita bisa melihat, tidak semua bule memiliki pandangan yg sama dengan Mr. Ramakers.

    This blog by the way, is another example of an Indonesian that has a hobby. ” Wow, he is almost like a European child “. He visits restaurants and writes reviews on his blog.

    Wew, thx a lot promosinya ya ! (malu)

  • nlpeter
    April 14, 2007

    Salam kenal semua. Saya ke blog ini dari link Andre.
    Tidak semua orang Belanda seperti pak Ramakers, contooooohnya aaaakuuuu :)

    I am at the opposite side of the box, that’s why I have never seen mister Ramakers :)
    Sometimes I take a walk around the box because I want to discover all colors (maybe mister Ramakers should do that as well), but I like my side better. There are many nice people on this side.

    Saya sudah tulis komentar lain di indahnesia forum (linknya di atas).

  • JiE
    April 15, 2007

    @nlpeter : Thx Peter. Sungguh tidak banyak bule yang mengagumi kebudayaan Indonesia spt anda. Dan orang2 seperti anda bisa menjadi jembatan pikiran antara orang Indonesia & luar negri :)

  • rinnie
    April 16, 2007

    wah bener banget tuh bule, obesi orang indonesia hanyalah bagaimana mengeruk uang sebanyak mungkin untuk berfoya2 tanpa memikirkan pendidikan untuk anak kita di masa yang akan datang.

    Two thumbs up untuk si bule..
    Jie salan kenal yah..

  • JiE
    April 16, 2007

    @rinnie : well, opini yg menentang arus, but that’s fine :) Salam kenal juga ya..

  • Herman Saksono
    June 19, 2007

    Very true :D

  • JiE
    June 19, 2007

    @Herman : Hehe.. kok nyengir.. ada pengalaman pribadi ya.. :P
    Thx for stopping by anyway..

  • -tikabanget-
    June 19, 2007

    setujuh banget bab orang tua kebanyakan gak ngajarin sesuatu yang usefull, tapi kebanyakan mengikat anak mereka dengan adat bias yang berlaku di masyarakat.
    anak jadi ndak tau dan ndak fokus buwat idup mereka sendiri.

  • JiE
    June 19, 2007

    @Tika : yap, saya rasa disini kuncinya ada di edukasi, ya gak ? :)

  • Agogo
    February 1, 2009

    Jie, gw sering mampir ke blog loe nih sebenernya, selain info kuliner, postingan loe yg kali ini (baru sempet gw baca) bener2 ngasi sudut pandang lain kaya apa gambaran orang Indonesia di mata bangsa lain. So far gw sebenernya berpandangan hampir sama dengan dia. Sering kali gw nemuin orang yg being obsessed with money no matters how they get it. Gw minta ijin copas ke catatan di Fb gw ya? supaya bisa jadi cermin buat semua yang baca. Salam kenal, gw alumni STTS 2001 (ISTTS skrg) . Piss Bro Jie…

  • Zee
    January 23, 2012

    Setuju sama meneer satu ini… Pada beberapa bagian ak setuju soal orang Indo ga Nabung tapi uangnya dibelanjain buat hal2 tersier.. Tp itu sih kelompok tertentu dari masyarakat, ga semua jg sih.. ( ̄▽ ̄;) soal semua orang Indo sukanya ama duit.. Sebagian besar iya sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 − 4 =