Oleh: Aj, Pecinta kuliner dan jalan jalan. Bertempat tinggal di Jakarta.
Coba Initialers perhatikan penggalan PETA di bawah ini. Dan coba tebak, kira kira ini potongan peta Pulau apa?

Sekilas, tampak persis seperti peta Pulau Jawa, namun salah sama sekali. Kota Pekalongan, Trimurjo, Gunung Sugih, Sidodadi dll yang tertulis di peta bukanlah tanah Jawa, melainkan terdapat di Propinsi Lampung, tepatnya Kabupaten Lampung Timur.
Hal lain yang juga cukup menggelitik ketika pertama kali menginjakkan kaki di bumi Lampung Timur adalah, mayoritas penduduknya berbahasa Jawa. Bukan hanya itu, rumah makan yang menjual masakan khas Jawa, terutama Jawa Timur, sangat mudah dijumpai disini. Rujak Soto misalnya, makanan khas Banyuwangi ini bisa dijumpai di salah satu rumah makan yang bertajuk ‘SUROBOYO‘. Bahkan gue pertama kali nyicip rujak soto ya, disini ini. Enak tuwenaaan rupanya 

Kabupaten tempat terdapatnya Taman Nasional Way Kambas ini bisa berpenduduk mayoritas Jawa, tak lepas dari 2 peristiwa masa lampau, yaitu:
Gelombang pertama, ketika jaman kolonial Belanda. Lampung, pada masa itu terkenal dengan hasil bumi tebu sebagai bahan baku utama gula. Nah, dari mana para kompeni itu memperoleh tenaga kerja yang murah dan mudah dipindahkan (dekat), kalau bukan dari Pulau Jawa?
Kedua, era program transmigrasi ala Soeharto. Penduduk di Pulau Jawa yang padat penduduknya, dijanjikan lahan untuk mereka kelola di tanah Sumatera, yang relatif lebih renggang penduduknya. Terutama pelosok seperti Lampung Timur ini, menjadi salah satu lokasi utama ‘pemerataan’ penduduk.
Sehingga, sangat masuk akal, bila banyak dijumpai desa desa dengan nama bernuansa Jawa. Bahkan diambil langsung dari desa asal muasal mereka di tanah Jawa, semisal, Bantul, Purbolinggo, Sidodadi, Pekalongan, Adirejo, Purwosari, Purworejo dan sebagainya. Jangan heran pula kalau penduduk ‘lokal’ sangat fasih berbahasa Jawa. Namun kalau ditanya asalnya darimana, sebagian besar dari mereka akan menjawab, asli Lampung. Kalau ditanya lebih lanjut, baru ketahuan, orang tua dari orang tua dari orang tua mereka, aslinya Kediri atau Jogja atau Pekalongan, dan lain sebagaimya.
Bahkan foto di bawah ini, adalah sebuah Gereja somewhere di Lampung Timur, bukan di Wonogiri atau Pekalongan yang asli.

Facebook Like-o-meter :
My Delicious Posts :
26 delicious comments
hi hi Kimi bisa ajah, santei ajah, kualitas itu lebih baik daripada kuantitas. lampung emang keren, ini seperti sebuah taman mini indonesia yang tentunya indah, Bukan?
masih di lampung? jangan lupa ketemu sama seruiters dan lampunggech
lom pernah ke lampung nich! hahahaha… sekarang lagi pengen banget ke pulau Umang atau ke Manado 
Kok temen aku yang di Lampung ga pernah cerita-cerita yah, hehehe ^o^
Sesungguhnya sebelum dipindah oleh pemerintah kolonial Belanda sudah ada perpindahan penduduk terutama dr Banten yg mana penduduk Banten jg banyak yg berbahasa n terpengaruh budaya Jawa. Tulisan yg menarik 
Rujak Soto … waduh… ga isa bayangin. Rujak cingur Admajais sih enak, Soto Ayam Pak Sadi sih enak …. kalo di campur? Ga tau lagi deh…
@Ivan: Aku udah pernah nyoba……. enak juga sih walaupun butuh open tasted karena ya itu tadi….. Kita udah terikat imej rujak cingur Ahmad Jais dicampur ama Soto Pak Sadi. Tp kalo bs open taste gak masalah…. enak kok !!! 
Setau gue, rujak soto agak susah dicari di Surabaya, bener ngga?
Ohya, tambahan, orang Jawa di Lampung jauh lebih rajin dan ulet dibanding orang lokalnya. Kemajuan Lampung sangat tergantung para pendatang ini.
Thanks atas apresiasi-nya.
Weh … ini pasti akibat banyaknya penduduk jawa yang bertransmigrasi di era 80-an ya?
saya yang tinggal di banyuwangi aja nggak terlalu senang ama rujak soto,mungkin karena lidah udah terbiasa dengan makanan makassar kali yee…
btw , lampung jadi unik dong dengan nama-nama daerah jawa-nya
karena aq orang jawa yang lahir di perkampungan jawa di daerah kota banjar jawa barat aq ingin punya teman yang bisa ngajarin aq budaya jawa alamatku ni azmi_worldwide@yahoo.com
jl. kubangpari 172 bangunsari pamarican kota banjar 46382 jabar
@Azmi : jawa barat ka juga Jawa
joke2.. Saya nangkap maksud anda, ayo2.. mungkin ada Initialers yg bisa bantu ? 
wah saya juga ketipu, saya orang pekalongan lihat peta kok persis ada pekalongan, tapi ada kota-kota yang aneh, akhirnya saya baca ternyata dilampung. mungkin transmigrant dulu terus ambil nama sama dgn daerah asal, biar terkesan masih didaerah asal. jadi gak perlu pulang kampung kan sama juga pekalongan hehehe
enak tenan jadi orang jawa, banyak teman dimana2(banyak orang jawa di pulau lainnya) tolong dong carikan info tentang daerah sukadana, klu bisa selengkap2nya. soale aku mau dinas kesana ni, trims
@ Kharis: gue punya sedikit info tentang Sukadana… sedikit sih, soalnya hanya pernah tugas sebentar di sana. Kota terdekat namanya Metro, lumayan banyak hotel atau sewa rumah/kos disana. Lumayan banyak makanan enak dan murah juga. Soal makanan ngga perlu kuatir karena didominasi masakan Jawa, so kalau kamu orang Jawa, tenang aja… soal makan mah udah aman he he he 
Sukadana dekat Way Kambas tuh, bisa lihat sepak bola gajah he he he..
Selamat bertugas ya…
Saya dilahirkan di Desa Siraman Kecamatan Pekalongan (yang saat ini menjadi bagian Kabupaten Lampung Timur), namun saat ini tinggal di Kalianda Lampung Selatan.
Mohon maaf jika ada koreksi sedikit dari saya, nama Gunungsugih itu bukan nama bawaan dari Jawa, akan tetapi nama asli perkampungan Lampung. Gunungsugih selain nama kampung/kecamatan, kini berfungsi sebagai pusat pemerintahan/ibukota Kabupaten Lampung Tengah. Selain itu ada beberapa kampung asli Lampung yang memakai nama Gunungsugih, yaitu: Gunungsugih Kec. Kedondong Kab. Pesawaran; Gunungsugih Kec. Balik Bukit, Lampung Barat, dan sebagainya.
@Siswanto : Halo Lampung…
makasih banget buat sharingnya yah.. Gunungsugih sekilas mirip nama Jawa, karena sugih artinya ‘kaya’ dalam bahasa Jawa 
@ Siswanto & Jie : iya, mungkin bukan bawaan dari Jawa namun nama-nya yg agak ke-jawa-jawa-an 
Thanks for sharing
udah lama gue ngga ke Lampung lagi… rindu juga kebon kebon singkong nan hijau dan damai… 

@Ko Aj : nice post nih, sangat informatif. Baru tau kalo di lampung sana banyak nama2 kota2 yg mirip banget dgn yg di pulau Jawa.
Omong2 soal rujak soto, aku baru 1 kali nyoba di FJB 2008, pertama kali ngincip rasanya aneh.. tapi kalo udah dicampur rasanya seru juga. Rujak tapi berkaldu.. sip