*Written deliciously by Wuri, Initialers from Abu Dhabi, UAE.
Enaknya dan uniknya tinggal di negara yang hampir 2/3 penduduknya justru expatriate adalah lebarnya kesempatan untuk mencicipi makanan-makanan dari segala macam penjuru dunia. Dari masakan Arab (jelaslah!), persia, India, dkk sampai masakan Eropa, Amerika, dan Asia Timur. Lengkap, tumplek blek! 
Welcome to the Persian cuisine Restaurant
The Hatam, merupakan salah satu restoran arabia yang unik. Pertama kali masuk, ambiance Arabia amat terasa. Furniture dan dekorasi yang khas serta sayup-sayup bau bukhoor (kombinasi baubauan dari kayu dan minyak wangi yang dibakar) langsung menyapa. Untuk restoran yang lokasinya outdoor, bisa dijumpai juga beberapa orang yang menyedot sisha (pipa tembakau ala arab) yang baunya juga khas banget.
Di dalam, selain meja-meja dengan furniture yang khas, ada juga bilik-bilik yang bisa ditutup dengan gordyn karena kebanyakan orang Arab masih memegang teguh privasi. Karena privasi ini juga, saat gordyn ditutup para pelayan pun pasti mengucapkan salam dan meminta ijin untuk masuk, bahkan untuk menghantarkan pesanan sekalipun! Widuuh.. kalau di Indonesia udah buat pacaran kali’ ya? Hehehe 

The Hatam yang aku kunjungi berlokasi di Marina Mall, Abu Dhabi. Kali ini aku memilih duduk di balkon diluar resto, karena resto-resto yang sharing balcony di Marina Mall bisa dapat pertunjukan gratis: simulasi hujan lengkap dengan suara gemelegar petir dan lampu-lampu diredupkan.
Maklum, namanya juga negara padang pasir, hujan pun harus di-simulasi.. hahaha. Anyway, saat mata mulai memelototi menu, pelayan menyajikan complementary starter berupa sayur mentah (biasanya sawi hijau & tomat), acar (wortel, lombok hijau besar, & timun), kacang2an (biasanya walnut), cheese cream, plus pita bread. Cara makan? Roti dioles cheese cream+acar+sayuran.
Rasanya? Aneh. Hahaha.. mungkin karena nggak biasa makan sawi mentah, jadi rasa getirnya terasa banget di lidah. Berhubung aku juga nggak begitu doyan cheese cream, jadi makan pita bread dan walnut pun sudah cukup.

Melototi menunya The Hatam nggak cukup cuma 5 menit. Nama-nama yang tidak familiar salah satu penyebabnya. Karena naga di perut sudah teriak-teriak protes, akhirnya aku & temanku milih aja berdasarkan gambar, Baghala Polo (green rice + lamb) & mix grill kabab. 15 menit kemudian makanan datang.
Green rice + lamb nya rasanya mantap! Nasinya berasa mirip Arabic biryani yang kaya dengan rempah (kayu manis, cengkeh, dan kapulaga) plus tambahan dill leaves untuk memperkaya rasa. Potongan-potongan besar lamb – nya empuk dan juicy.
Waktu makan green rice ini, aku baru tahu fungsinya sawi hijau mentah. Menambahkan sawi hijau disuapan nasi ternyata mengurangi rasa pekatnya lemak. Sip dah!
Walaupun sebenernya kalau ada sambel terasi lebih asik lagi…
hehehe

Menu kedua, Mix Grill Kabab yang rasanya juga tak kalah mantap. Mix grill kabab terdiri dari sate ayam + sate daging kambing + sate daging sapi + daging sapi giling yang dibumbu & di-grilled + daging kambing giling yang dibumbu & di-grilled. Bumbu khas arabia juga kuat terasa.
Tapi fuuhh…, 1 porsi green rice ternyata sudah sangat cukup untuk berdua… jadi mix grill kababnya hampir tak tersentuh. No problem! Bungkus aja deh, pak! Harga makan siang di the Hatam just in average, hampir sama dengan resto kelas menengah di UAE.
Anyway, its great for a change!
Facebook Like-o-meter :
My Delicious Posts :
17 delicious comments
Di deket kantor gw juga ada 1 restoran persia yg kita suka. Tp cuma ke sana kalo ada yg ultah aja, soalnya rada mahal. Hehehe.
Sama begitu dtg dikasih pita bread. Tp dimakan ama bawang bombay ama mentega. Hehehe. Ternyata enak juga lho kombinasi itu. :p bisa sih minta sayuran juga, tp kalo gak request, gak otomatis dikasih.
Untuk makanan ya paling antara kabob atau kobideh… Mirip2 sih, grill gitu juga. Modelnya dan nasinya juga mirip2 yg difoto itu. Enakkk…. Suka bgt gua ama persian food. 
Gak tau di indo ada gak ya persian restaurant?
g ga pernah mkn masakan arab , satu waktu pen cobain ahh . si Jenz udah rekomen Hadramout atau apa tuh di Jl Tambak kae nya boleh juga .
ehh iya paling Kabab n roti pita yg g tau .
lahh, yang reportase ke arab gak sekalian difoto sih? enak tenan liat kondisi langsung disana
Great work Wuri. Keep up the good work and share some food with us. Dont keep us starving 
ngomong ttg daun sawi yg bisa ngurangi rasa pekat nya lemak. aku beberapa tahun belakangan ini sih. kalo di masakan indonesia, selalu ada lalapan (biasa e seh isi e kol, kemangi, timun, kacang panjang, trs… kadang ada tomat e)
dulu aku benci soro mbe lalapan soal e jelas2 ae ndak enak. tapi skrg aku ngerti guna e lalapan. khusus e kemangi. mnrtku, kemangi bisa ngurangi rasa pedes dari sambel/lombok.
@Naki : nah, soal bedanya roti canai, prata (plus maryam), ini lagi saya request ke kak Wuri untuk mendeskripsikannya hehe.. 
@Alex :
kemangi bisa ngurangi rasa pedes dari sambel/lombok.
Thx infonya lex, aku malah baru tau.. selama ini makan kemangi soale suka tastenya yg eksotik 
Aku juga nggak tahu bedanya! hahaha…
Serius: canai/paratha/maryam itu sami mawon, idem ditto. Cuma beda istilah aja. Canai itu istilahnya orang Malaysia, paratha orang India, maryam….. disini aku nggak pernah denger orang bilang roti maryam. Mungkin cuma di Indo aja. Bahannya bisa beda juga, kalau orang India pake’ Ghee (http://www.google.ae/search?hl=en&source=hp&q=define%3A+ghee&meta=lr%3Dlang_en&aq=f&oq= ) ; kalau di Indo mungkin lebih banyak pake’ mentega atau butter. Kalau di Malaysia…. aku belum pernah ke Malaysia so… mungkin initialers2 lain bisa melengkapi deskripsiku ini 
Kalau dirunut dari sejarahnya *hayaahh…* , sebenernya sumber roti ini dari India (paratha). Kan banyak tuh, orang India yg migrasi ke Malaysia… makanya itu juga Malaysian culinary banyak dipengaruhi India. Contoh lain selain Paratha adalah teh tarik yg originalnya disebut Chai (teh susu India).

masakan timur tengah lak mesti mengandung kambing ya
btw nasinya timur tengah itu menarik, beda dg nasi sini, nasi sana panjang2 ya.
*mendadak feeling pingin makan kebab turki*