Single Origin Coffee Brewing with Rodney Glick
Yang rajin baca INIJIE pasti sudah mengendus ketertarikan ku dengan biji-biji hitam berlabel Kopi. Sampai aku rasanya perlu bikin satu kategori khusus di blog ttg Kopi. Tapi belum. Belum sekhilaf itu *melirik coffee grinder di ruang makan*
Bulan Februari lalu diundang Pak Stephan dari Le Cafe Gourmand buat ngintip training single origin coffee brewing. Ga tanggung-tanggung, ditempa langsung dari salah satu yg terbaik: Rodney Glick dari Seniman Coffe Studio, Bali.
Jadi yang namanya single origin itu jenis-jenis kopi yang berasal dari suatu lokasi yang spesifik. Bahkan secara ekstrim, kebun yang spesifik. Beda lokasi tanam berarti ada perbedaan suhu, ketinggian, jenis tanah, varietas tanaman disekitarnya hingga sentuhan kasih sang petani.
Indonesia patut bangga karena banyak single origin yang jadi incaran coffee addict di dunia. Misal: Sumatera Gayo, Bali Kintamani dan Papua Wamena. Nah teknik brewingnya pun meskipun beraneka rupa tapi ga sembarangan. Sabda dari Rodney Glick:
Brewing a good cup of coffee is like playing music.. Different instrument and different technique result in different style.
Sementara di Seniman Coffee Studio sendiri yang jadi specialty dan primadona tamu adalah teknik Syphon. Wayan, barista Seniman, bilang butuh minimal 100 kali latihan baru bisa lihay bermain dengan Syphon. Teknik lain yang juga populer di Jepang adalah Pour Over, pakai V-cup lalu diseduh dengan kettle leher angsa.
Aku sendiri senang dengan ekstraksi ala Syphon karena gratis aroma dan tarikan after taste yang menyenangkan. Sedangkan Pour Over mengekstraksi body dari single origin lebih maksimal. Bagaimana pun keduanya mengekspos sains nan presisi yang berbalur keindahan seni.
Oh well, Coffee.. is certainly happiness (and art) in liquid form.


























Mar 02, 2013 @ 11:34:20
Udah ada kopi enak di Surabaya ya berarti? Asyiiik *buat taon depan*
Mar 02, 2013 @ 12:58:28
@gourmetpigs waakkss.. taun depan? lama benerrr
Mar 28, 2013 @ 09:26:01
Setuju bahwa syphon after taste-nya lebih ‘segar’, dan hasil ektrasinya lebih light dan “bening”. Kadang malah ngerasa minum cola karena warnanya yang tidak keruh
Mar 29, 2013 @ 11:23:33
@Yeni : woww.. coffee addict detected! *toss* Light tapi karakternya tetap kebaca.. Suka kopi apa nih? Share with me yah..
Apr 18, 2013 @ 11:16:31
@Jiewa
Paling cocok di lidah saya kopi Kalosi, paling sering pake french press kalau di rumah/tempat kerja. Ditambah sedikit gula biar keluar asamnya hehe.
Apr 19, 2013 @ 01:01:32
Superb materials here on inijie.com, man. I actually like what
you have accrued in this article, certainly like what you’re saying and the way through which you say it. You are making it enjoyable and you still take care to keep it intelligent. I can not wait to learn much more from you. This is really a remarkable web site.
Apr 19, 2013 @ 09:23:52
@Yeni : French press memang paling simple buat coffee geek ya, taste juga relatif konsisten
@nestpearls : Thanks