7 Alasan Mencintai Street Food Indonesia

By Tuesday, May 7, 2013 65 Permalink 0

Hai Initialers.. Sebelum nulis postingan ini tadi sarapan Sego Jagung atau Nasi Jagung dalam Bahasa Indonesia. Sarapan street food ala Surabaya yang murmernyus. Murah meriah maknyus hehe..

Nasi Jagung - Indonesian street food

Omong-omong soal street food, banyak yang bilang street food Indonesia mulai terpinggirkan. Jadi anak tiri dirumah sendiri. Kalah sama makanan ala mall yang lebih necis. Walau jarang tampil di blog, aku sendiri sering jajan ‘nyetreet’ *ya bisa dilihat dari bentuk tubuh yg udah bulet kayak pempek ini*

Beberapa street food khas Indo sempat jadi barang langka. Sebut aja Kerak Telor atau Semanggi Surabaya. Untungnya saat ini sudah mulai kembali berjaya karena mulai tumbuhnya kesadaran kuliner kita.

Para icon kuliner Indonesia seperti Pak Bondan Winarno, Om William Wongso dan Mas Arie Parikesit termasuk yang paling getol mempromosikan street food Indonesia agar menjadi raja di negeri sendiri.

Indonesian Street Food, Why?

Kenapa sih kita mesti (kembali) cinta sama street food Indonesia? Well, aku bukan komentator politik yang pandai beretorika. Mendingan aku sarikan dari pengalaman pribadiku sebagai tukang makan ya

Kue Rangin - Indonesian street food

  • One man – one specialty. Hayo perhatiin ga? Yang jualan Kerak Telor, ya cuma jualan Kerak Telor. Yang jualan Soto Lamongan, ya cuma jualan Soto Lamongan –ya kadang bonus nasi goreng sih hehe.Karena sehari-hari fokus di satu jenis masakan, otomatis kemampuan masaknya sangat terasah.Mereka sangat piawai meracik makanan specialty-nya tersebut.Bandingkan dengan depot atau restoran dengan lusinan bahkan puluhan dish.Ayah ku pernah bilang: lebih baik punya 1 pisau tajam daripaa 10 pisau tumpul. Well said.
  • Affordable Price. Nah ini ciri khas street food terutama di Indonesia. Harganya sangat bersahabat. Di Surabaya Sego Jagung pake urap2 dan peyek start dari 3rb. Powerful breakfast haha..TETAPI, harga yg murah ini bukan berarti yg menggemari street food cuma kalangan bawah. Coba lihat Kacang Ijo Fanani di Pasar Besar, yang antri datang dengan mobil2 beken Eropah.
  • The concert of live cooking. Ini dia experience yg ga kita dapatkan pas nunggu di meja resto. Kalau di street food, biasanya makanan di racik depan kita. Kita bisa merasakan harmoni suara ‘konser’ dengan dirigen si bapak/ibu penjual. Suara raungan kompor, suara pisau memotong sayuran, suara desisan uap yang keluar dari loyang martabak… Oh boy.. *tiba2 lapar*
    03 kue leker
  • Help The Economy. Setiap penjual street food pastinya selain passion dengan makanan yg mereka jual, juga ada motif ekonomi. Ada anak dan istri yang harus dihidupi. Dengan membeli street food, sebenarnya kita juga membantu menggerakkan roda perekonomian.
  • Genuine Smile. Nah, ini dia keunggulan nomer satu orang Indonesia: RAMAH. Rasanya jarang aku menemukan penjual street food yg cemberut di Indonesia. Dari keramahan penjual Kopi Joss di angkringan Jogja, aku bisa belajar banyak tentang budaya Jogja. Dan keramahan inilah yang juga sangat disukai turis mancanegara.
    04 smile
    Sangat kontras dengan pengalaman aku makan di salah satu hawker center di luar negeri, alih2 menyapa ramah, penjualnya malah nyeletuk: “what do you want?” dengan dagu dan alis terangkat. Wah, ngacir aja deh hehe.. I prefer the friendliness of my beloved country, Indonesia.
  • Bring Home a Story. Berburu street food ala Indonesia memang gampang2 susah. Ada beberapa lokasi yang ga umum, blusuk-blusuk tapi tetep aja dicari. Kadang sampai nyasar. Ketika menemukannya pun lokasinya tak jarang super unik.
    Nah pengalaman hunting street food ini akhirnya menjadi cerita yang dibawa pulang selain mengisi perut. Misal, ketika aku hunting Bebek Canggih di kawasan Kertajaya, ternyata lokasinya tepat di samping rel kereta. Walhasil setiap kereta lewat ‘grujuk-grujuk’ harus siap2 pegang piring supaya ga bergerak kesana-kemari. That’s a story.
  • Celebration of Culture. Menikmati street food adalah sebuah selebrasi budaya. Setiap makanan pasti memiliki akar budayanya. Dengan jajan street food otomatis juga melestarikannya. Jangan sampai nanti Semanggi atau kue Rangin diklaim sama negara2 lain yang lebih peduli budaya..

Makanan Kaki Lima, Mindset Bintang Lima

Oke kita semua sudah kompak mengangguk setuju kalau street food Indonesia layak dicintai, dinikmati dan dilestarikan. Tapi masih ada kendala yang bikin street food masih susah jadi raja di negeri sendiri.

Kendala yang sering kita lihat misal, dari segi kebersihan. Ada pendapat yang berseberangan yg bilang kalau street food itu jangan terlalu bersih, ga afdol makannya. Tapi menurutku, dengan memperhatikan aspek hygiene maka street food kita bisa step up. Lebih mudah diterima segala lapisan konsumen.

Kedua, mindset penjual. Ada beberapa oknum penjaja street food yang kurang etis dalam berdagang. Misal menggunakan bahan pemanis berlebihan karena gula lebih mahal.

Contoh lain, buka lapak tidak konsisten. Buka dan tutup tergantung ‘mood’ yg jualan hehe.. Akhirnya pembeli jadi tidak loyal dan tidak kembali lagi.

Solusinya.. Hmm aku mau nyebut peran pemerintah, tapi nanti jadi klise hehe.. Awal yang baik bisa dari komunitas. Bisa membentuk komunitas street food Indonesia supaya memberikan edukasi buat para ‘backbone’ street food kita. Selain itu bisa membantu permodalan juga supaya bisa scale up usaha maknyusnya.

Komunitas duitnya dari mana? Bisa dari menggandeng sponsor, aku 101% yakin banyak company bersedia melakukan CSR disini. Mulai dari brand kuliner hingga perbankan.

Kedua, komunitas online baik dari blogger maupun komunitas/klub2 pecinta makanan supaya lebih giat lagi bikin blog post maupun acara2 bertema street food. Dengan cara2 ini sebenarnya kita secara tidak langsung juga melakukan ‘klaim’ terhadap budaya kuliner Indonesia..

Step to Higher Level

Aku kagum  dengan Pak Iwan ‘Combro’, salah satu icon pengusaha kuliner Indonesia. Beliau sukses membawa street food ke tingkat yg lebih tinggi. Melalui jaringan pujasera konsep ‘Peranakan’ yang ia miliki, beberapa street food Indonesia bisa mendapat positioning yang baik.

Street food seperti Bubur Madura misalnya, diberi stan yang bagus, sistem pengaturan bahan baku yang baik dan dibuat agar lebih higienis –bebas serangan lalat seperti di Pasar Atum

05 street food step up

Lho, street food kok makan di Pujasera? Ambiencenya cocok ga? Bisa dong. Buktinya Singapore dan Malaysia sukses membawa Char Kuey Teow dan Ice Cendol di mall dan foodcourt.

Ini yang namanya ‘step up’. Tidak meninggalkan akarnya, tapi improve agar bertumbuh. Membawa street food ke arena yang baru. Bukan bersaing tapi beriringan harmonis dengan jenis cuisine lain.

Masih banyak PR sih supaya street food Indonesia bisa semakin berkibar. Oya, nanti World Street Food Congress 2013 bakal diadakan di Singapore. Semoga Jie bisa datang dan serap banyak ilmu disana buat dibawa ke Indonesia yah..

 

Fans Berat Kue Rangin,

 

J.

Enjoy this article? Get email updates for the hottest topic, FREE!

* indicates required

I won't spam. Promise! :)
65 Comments
  • Cathalia Trebla
    February 20, 2014

    Nice blog J .. keep up the good work…
    While I am trying hard to stay in shape after food tasting at some of the places that you reviewed ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *