Initial - J

Avatar

~ Life is Delicious ~

Ranah Jawa di Tanah Melayu

Vote :

If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed. If you're not familiar with RSS technology, u could subscribe via email. Thanks for visiting!

Oleh: Aj, Pecinta kuliner dan jalan jalan. Bertempat tinggal di Jakarta.


Coba Initialers perhatikan penggalan PETA di bawah ini. Dan coba tebak, kira kira ini potongan peta Pulau apa?

Lampung___jawa_for_inijie.jpg

Sekilas, tampak persis seperti peta Pulau Jawa, namun salah sama sekali. Kota Pekalongan, Trimurjo, Gunung Sugih, Sidodadi dll yang tertulis di peta bukanlah tanah Jawa, melainkan terdapat di Propinsi Lampung, tepatnya Kabupaten Lampung Timur.

Hal lain yang juga cukup menggelitik ketika pertama kali menginjakkan kaki di bumi Lampung Timur adalah, mayoritas penduduknya berbahasa Jawa. Bukan hanya itu, rumah makan yang menjual masakan khas Jawa, terutama Jawa Timur, sangat mudah dijumpai disini. Rujak Soto misalnya, makanan khas Banyuwangi ini bisa dijumpai di salah satu rumah makan yang bertajuk ‘SUROBOYO‘. Bahkan gue pertama kali nyicip rujak soto ya, disini ini. Enak tuwenaaan rupanya

rujak_soto_for_inijie.jpg

Kabupaten tempat terdapatnya Taman Nasional Way Kambas ini bisa berpenduduk mayoritas Jawa, tak lepas dari 2 peristiwa masa lampau, yaitu:

Gelombang pertama, ketika jaman kolonial Belanda. Lampung, pada masa itu terkenal dengan hasil bumi tebu sebagai bahan baku utama gula. Nah, dari mana para kompeni itu memperoleh tenaga kerja yang murah dan mudah dipindahkan (dekat), kalau bukan dari Pulau Jawa?

Kedua, era program transmigrasi ala Soeharto. Penduduk di Pulau Jawa yang padat penduduknya, dijanjikan lahan untuk mereka kelola di tanah Sumatera, yang relatif lebih renggang penduduknya. Terutama pelosok seperti Lampung Timur ini, menjadi salah satu lokasi utama ‘pemerataan’ penduduk.

Sehingga, sangat masuk akal, bila banyak dijumpai desa desa dengan nama bernuansa Jawa. Bahkan diambil langsung dari desa asal muasal mereka di tanah Jawa, semisal, Bantul, Purbolinggo, Sidodadi, Pekalongan, Adirejo, Purwosari, Purworejo dan sebagainya. Jangan heran pula kalau penduduk ‘lokal’ sangat fasih berbahasa Jawa. Namun kalau ditanya asalnya darimana, sebagian besar dari mereka akan menjawab, asli Lampung. Kalau ditanya lebih lanjut, baru ketahuan, orang tua dari orang tua dari orang tua mereka, aslinya Kediri atau Jogja atau Pekalongan, dan lain sebagaimya.

Bahkan foto di bawah ini, adalah sebuah Gereja somewhere di Lampung Timur, bukan di Wonogiri atau Pekalongan yang asli.

gereja_lampung_for_inijie.jpg

Artikel yang mungkin berhubungan (Possibly Related Posts) :
  • Harga Sebuah ‘Pemahaman’
  • Sumiati, Anak Tukang Cuci Yang Jagoan Basket
  • GRATIS buku “Whatever You Think, Think The Opposite”
  • Rocking Hard with HRFM and Pak Dahlan Iskan
  • Surabaya’s Wedding of The Year : Eiffel Tedja-Imelda Dharma
  • 17 Comments, Comment or Ping

    1. @Ko Aj : nice post nih, sangat informatif. Baru tau kalo di lampung sana banyak nama2 kota2 yg mirip banget dgn yg di pulau Jawa.
      Omong2 soal rujak soto, aku baru 1 kali nyoba di FJB 2008, pertama kali ngincip rasanya aneh.. tapi kalo udah dicampur rasanya seru juga. Rujak tapi berkaldu.. sip

    2. Orang lampungnya sendiri terpinggirkan…

    3. hi hi Kimi bisa ajah, santei ajah, kualitas itu lebih baik daripada kuantitas. lampung emang keren, ini seperti sebuah taman mini indonesia yang tentunya indah, Bukan?

      masih di lampung? jangan lupa ketemu sama seruiters dan lampunggech

    4. lom pernah ke lampung nich! hahahaha… sekarang lagi pengen banget ke pulau Umang atau ke Manado

    5. Gravatar

      febri

      hmm.. interesting

    6. jadi orang jawa udah ada di mana-mana yah?

    7. bisa salah alamat donk

    8. Kok temen aku yang di Lampung ga pernah cerita-cerita yah, hehehe ^o^

    9. Sesungguhnya sebelum dipindah oleh pemerintah kolonial Belanda sudah ada perpindahan penduduk terutama dr Banten yg mana penduduk Banten jg banyak yg berbahasa n terpengaruh budaya Jawa. Tulisan yg menarik

    10. jadi ada tambahan informasi nih

    11. waahh..aku baru tauuu lhooo..pdhal ips ku pas sd selalu dpt 9 wakakaka..

    12. Orang jawa dimana2.. sampe di Suriname juga ada radio orang jawa

    13. Rujak Soto … waduh… ga isa bayangin. Rujak cingur Admajais sih enak, Soto Ayam Pak Sadi sih enak …. kalo di campur? Ga tau lagi deh…

    14. @Ivan: Aku udah pernah nyoba……. enak juga sih walaupun butuh open tasted karena ya itu tadi….. Kita udah terikat imej rujak cingur Ahmad Jais dicampur ama Soto Pak Sadi. Tp kalo bs open taste gak masalah…. enak kok !!!

    15. Gravatar

      Aj

      Setau gue, rujak soto agak susah dicari di Surabaya, bener ngga?
      Ohya, tambahan, orang Jawa di Lampung jauh lebih rajin dan ulet dibanding orang lokalnya. Kemajuan Lampung sangat tergantung para pendatang ini.
      Thanks atas apresiasi-nya.

    16. Weh … ini pasti akibat banyaknya penduduk jawa yang bertransmigrasi di era 80-an ya?

    17. saya yang tinggal di banyuwangi aja nggak terlalu senang ama rujak soto,mungkin karena lidah udah terbiasa dengan makanan makassar kali yee…

      btw , lampung jadi unik dong dengan nama-nama daerah jawa-nya

    Reply to “Ranah Jawa di Tanah Melayu”

    Before you go

    Going so soon? Subscribe me first fellas. Schwing!